Kareba Redaksi “Hadang Narkoba di Pelabuhan” – FAJAR TV
Kareba Siang

Kareba Redaksi “Hadang Narkoba di Pelabuhan”

Hadang Narkoba di Pelabuhan

 

Polda Sulselbar kembali unjuk gigi atas prestasinya menggagalkan beredarnya 10 kg narkoba dalam dua episode penangkapan, masing-masing 2 kg dan 8 kg, semuanya masuk melalui Pelabuhan Nusantara Parepare dari jalur Nunukan dan Tarakan. Sementara barangnya berasal dari jaringan internasional. Jika kita peduli pada generasi mendatang, maka upaya penyelundupan narkoba itu harus dipandang serius, sebab Sulsel sudah menjadi destinasi.

 

Pada 5 Februari 2016 lalu, narkoba jenis sabu seberat 10 kg atau setara Rp13 miliar juga berhasil diamankan oleh Polres Parepare. Narkoba tersebut coba diselundupkan melalui pelabuhan dan akan dibawa ke Sidrap. Artinya baru berselang enam bulan, kejadian serupa terulang kembali. Sangat mungkin yang tidak tertangkap lebih dari jumlah itu sudah beredar di sejumlah daerah di Sulselbar.

 

Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charlyan mengakui bahwa peredaran narkoba belakangan ini banyak melalui transportasi laut, apalagi pemeriksaan penumpangnya tidak seketat melalui bandar udara. Perbandingan dua jalur masuk tersebut menggambarkan ke publik betapa nekat para pengedar melakukan aksinya. Salah satu pemicu kenekatan tersebut, selain upah menggiurkan hingga puluhan juta rupiah, juga karena modal spekulasi, apakah akan tertangkap petugas atau tidak kendati ancaman hukuman mati menanti.

 

Oleh karena itu, penting bagi kita semua agar sejenak memikirkan bagaimana masa depan bangsa ini beberapa tahun lagi. Di sisi lain anak bangsa senantiasa optimistik bahwa Indonesia akan menggapai masa keemasannya beberapa tahun lagi. Tapi di bagian lain, para pengelola bangsa ini seakan-akan belum bersatu padu pada kepentingan rakyat secara menyeluruh. Seolah-olah pemilik bangsa ini adalah siapa yang sedang berkuasa hari ini, sehingga sang penguasa tak perlu mendengarkan kelompok yang dikuasainya.

 

Ini tentu saja teramat berbahaya. Lebih parah lagi bila para sponsor dan para pendukunglah yang perlu didengar. Sebuah kebijakan yang lahir bukan atas kemauan dan kepentingan rakyat, bisa menjadi malapetaka bersama. Itulah sebabnya, momentum kesejarahan berupa hari kemerdekaan, sejatinya menjadi masa-masa terbaik melakukan introspeksi bagi segenap tumpah darah Indonesia; mulai dari presidennya hingga rakyat jelata.

 

Terutama kepada para pengelola negara, bertanyalah dan jawab secara jujur; apakah amanah yang diemban sudah dijalankan dengan ikhlas, jujur, dan penuh tanggung jawab. Apakah peredaran narkoba yang sangat massif itu bukan akibat dari tidak becusnya kita menjalankan tugas; atau bukan karena amanah atas diri kita itu yang terbeli. Jika bukan, maka sejatinya tak hanya pintu pelabuhan Parepare yang memberi bukti bahwa berpuluh-puluh kilo narkoba telah masuk dan beredar di Sulsel dan sekitarnya.

 

Sesungguhnya kita telah diserang dengan senjata mematikan. Hanya saja kita belum sadar karena kehancuran generasi berikutnya bukan sekarang, melainkan nanti beberapa tahun lagi ke depan. Tak hanya itu. Kita pun telah terjajah kembali melalui barang-barang impor akibat ketidakberdayaan kita menahan lajunya. Sementara kemampuan kita mengekspor produk jadi, kian tak bergigi. Inilah keterjajahan baru. Inilah salah satu hadiah bangsa ini di 71 tahun mengenang proklamasinya.

 

Sebuah negeri yang tak pernah sepi dari bising di segala penjuru. Gaduhnya terdengar dari ruang-ruang kerja para pejabat tinggi negara, hingga pekikan lara rakyat jelata tak terdengar lagi. Mungkin juga, narkoba sudah ada di laci meja kerja atau sekalu celana mereka sembari bicara kepentingan rakyat. Entahlah, tiba-tiba ingat tulisan Haris Azhar tentang Freddy Gunawan. (^^)

Click to comment
To Top