Kareba Redaksi “Panggung Dunia Bernama F8” – FAJAR TV
Kareba Malam

Kareba Redaksi “Panggung Dunia Bernama F8”

Panggung Dunia Bernama F8

Wali kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto sedang bersiap dengan proyek prestisiusnya, membawa nama Makassar ke ruang pariwisata lebih mendunia. Namanya F8 Makassar, atau Makassar International Eight Festival and Forum. Digelar pada 8-10 September. Kali ini berbahasa Inggris, tidak sebagaimana biasa wali kota yang akrab disapa Danny itu menggunakan istilah dari bahasa Makassar.
Tentu saja antara lain karena sasarannya tidak lagi lokal Makassar, bukan pula skala regional se wilayah timur Indonesia, bahkan secara nasional. Melainkan melampaui wilayah negara. Mengundang seluruh negara ASEAN, serta berharap akan dihadiri secara aktif peserta dari 30 negara di dunia. “Festival Delapan” (F8) atau “Eight Festival” (8F) adalah cara Danny menyatukan yang terserak. Makassar punya potensi kreatif di bidang film, fashion, food, flowers, fine art, folks, fusion jazz, fixion writer. Tapi selama ini  masih dengan garapan terpisah-pisah. Akibatnya, kurang bergaung ke daerah lain termasuk ke belahan dunia.

Tidak berlebihan jika Danny menyebut F8 sebagai panggung raksasa bagi dunia internasional dalam memberikan perspektif baru. Selain sebagai destinasi pariwisata menjanjikan di tengah-tengah kepulauan Nusantara, Makassar juga diapresiasi sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia, bahkan untuk skala ASEAN. Dari segi historis, Makassar sesungguhnya sudah punya nama. Sebagai kota jasa, kota dagang, maupun kota penghubung, Makassar sejatinya menjadi wilayah strategis jembatan timur dan barat. Itu sebabnya, penting bagi kita semua untuk membuka ruang partisipatif dan wawasan terbuka bagi seluruh masyarakat dan pemerintah kota.

Namun demikian, penting pula menjadi catatan bagi pemerintah kota saat ini agar wawasan internasional yang hendak menyeret Makassar sebagai kota dunia, tidak menjadikannya buta pada persoalan kota sehari-hari. Idealnya mengenai sampah, macet, semrawut, bahkan perasaan khawatir warga berada di luar rumah karena ancaman begal, bukan lagi persoalan di saat pembicaraan dan pergaulan kita justru telah bersama dengan warga dari negara-negara lain, apakah dari negeri tetangga atau dari negeri terjauh.

Itulah sebabnya, menjadi penting bagi kita untuk menerapkan kembali prinsip; berwawasan global itu penting, namun tidak berarti mengabaikan tindakan-tindakan lokal. Tindakan lokal itu menghargai kearifan lokal (local genius) sebagai produk asli (genuine) kita. Sebab, pergaulan dunia tetap meniscayakan pentingnya identitas personal. Bukan hanya sebagai identitas asal-usul, melainkan juga sebagai bekal utama agar tidak tergerus oleh budaya dan kepentingan pergaulan dunia.

Meski gelaran perdana, F8 yang seluruh agendanya terpusat di anjungan Pantai Losari, harus menjadi pemicu utama bahwa keberhasilan penyelenggaraannya akan membawa dampak besar bagi Makassar di mata dunia. Jika demikian, maka kelak F8 akan menjadi kalender event kementerian Pariwisata dan menjadikan Makassar destinasi utama di Timur Indonesia. Janganlah pula kelak, hilang hanya karena pucuk pimpinan pemerintahan berganti.

Jika gelar perdana sukses, maka para peserta dan pengunjungnya akan menjadi juru bicara sekaligus duta pariwisata Kota Makassar. Bahwa, kendati belum sampai pada taraf kota berstandar dunia, paling tidak, namanya telah mendunia dan membuat warga internasional senantiasa rindu ingin mengunjunginya. (^^)

Click to comment
To Top